Seorang mahasiswa, bukan berarti kegiatannya hanya terbatas pada lembaran buku yang dibaca. Amanah sebagai agen pembawa perubahan, mengantarkan mahasiswa pada garda terdepan penyuara nasib rakyat. Namun, apakah mahasiswa telah kenal dan paham akan keadaan bangsanya sendiri?
Dalam novel bertajuk Anak Semua Bangsa karya PramoedyaAnanta Toer, ia memberikan kritiknya terhadap kaum intelektual yang seakan tidak kenal akan bangsanya sendiri. Mereka hanya berada di “zona nyaman” kalangan elit, tanpa tahu apa yang terjadi di masyarakat lapisan bawah. Tak ada empati yang terjalin antara kaum intelektual sebagai pihak penggerak, dengan rakyat yang harus dibelanya. Ada penghalang imaginer yang seakan membuat para intelektual enggan untuk turun dari menara gadingnya. Oleh karena itu, dibutuhkan aksi terjun langsung untuk dapat benar-benar menjadi penyuara hati rakyat.
Salah satu aksi nyata yang dapat dilakukan oleh mahasiswa adalah dengan membina sebuah masyarakat hingga menjadi masyarakat yang mandiri. Kegiatan yang disebut juga dengan community development, biasanya akan mencari sebuah masyarakat dengan keadaan di bawah rata-rata untuk kemudian diterapkan solusi pengembangannya. Dalam program ini, mahasiswa dapat mengerahkan segala potensi yang dimiliki untuk membangun sebuah masyarakat. Dari mulai pembangunan infrastruktur fisik desa,penyuluhan kesehatan dan kebersihan lingkungan, pendidikan anak-anak yang tidak terjangkau akses sekolah, atau pelatihan keterampilan kerja mandiri. Semua ini dapat dilakukan oleh mahasiswa, mengingat dalam sebuah universitas terdiri dari beragam fakultas dengan disiplin ilmunya masing-masing.
Melalui program sejenis Community development, mahasiswa akan merasakan langsung manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Masyarakat dapat menjadi sebuah laboratorium raksasa bagi mahasiswa untuk meneliti hal-hal baru. Gagasan dan pengalaman yang ditemukan selama berbaur dalam masyarakat, dapat dijadikan sebagai bahan penelitian ilmiah demi pengembangan ilmu pengetahuan. Hasil penelitian ini, dikemudian hari akan dapat dijadikan referensi bagi kegiatan pengembangan masyarakat lainnya, sehingga tercipta semakin banyak masyarakat mandiri melalui tangan-tangan mahasiswa.
Di sisi lain, aksi nyata seperti ini akan lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan demonstrasi masif menuntut kinerja pemerintah. Bagai air yang selalu mencari celah untuk mengalir ke tempat yang lebih rendah, mahasiswa perlu proaktif dan terus bergerak dalam usaha mensejahterakan masyarakat. Bukan hanya menunggu dan menanti kepekaan pemerintah, tapi langsung menunjukan aksi nyata lewat apa yang mampu dilakukan oleh tangan sendiri. Tak ada lagi waktu untuk menanti, karena bangsa ini membutuhkan pengembangan konstruktif ke arah kemandirian.
Semoga dengan usaha pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa, tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat binaan, melainkan menumbuhkan pula kepekaan mahasiswa terhadap kondisi bangsanya sendiri. Sebuah rasa yang tumbuh dari pengalaman langsung dari bangsanya, bukan sekedar teori dan diskusi di kelas berpendingin ruangan. Dari bangsa ini para calon pemimpin bangsa memahami makna empati, dan untuk bangsa ini pula para intelektual mengabdi.
Dalam novel bertajuk Anak Semua Bangsa karya PramoedyaAnanta Toer, ia memberikan kritiknya terhadap kaum intelektual yang seakan tidak kenal akan bangsanya sendiri. Mereka hanya berada di “zona nyaman” kalangan elit, tanpa tahu apa yang terjadi di masyarakat lapisan bawah. Tak ada empati yang terjalin antara kaum intelektual sebagai pihak penggerak, dengan rakyat yang harus dibelanya. Ada penghalang imaginer yang seakan membuat para intelektual enggan untuk turun dari menara gadingnya. Oleh karena itu, dibutuhkan aksi terjun langsung untuk dapat benar-benar menjadi penyuara hati rakyat.
Salah satu aksi nyata yang dapat dilakukan oleh mahasiswa adalah dengan membina sebuah masyarakat hingga menjadi masyarakat yang mandiri. Kegiatan yang disebut juga dengan community development, biasanya akan mencari sebuah masyarakat dengan keadaan di bawah rata-rata untuk kemudian diterapkan solusi pengembangannya. Dalam program ini, mahasiswa dapat mengerahkan segala potensi yang dimiliki untuk membangun sebuah masyarakat. Dari mulai pembangunan infrastruktur fisik desa,penyuluhan kesehatan dan kebersihan lingkungan, pendidikan anak-anak yang tidak terjangkau akses sekolah, atau pelatihan keterampilan kerja mandiri. Semua ini dapat dilakukan oleh mahasiswa, mengingat dalam sebuah universitas terdiri dari beragam fakultas dengan disiplin ilmunya masing-masing.
Melalui program sejenis Community development, mahasiswa akan merasakan langsung manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Masyarakat dapat menjadi sebuah laboratorium raksasa bagi mahasiswa untuk meneliti hal-hal baru. Gagasan dan pengalaman yang ditemukan selama berbaur dalam masyarakat, dapat dijadikan sebagai bahan penelitian ilmiah demi pengembangan ilmu pengetahuan. Hasil penelitian ini, dikemudian hari akan dapat dijadikan referensi bagi kegiatan pengembangan masyarakat lainnya, sehingga tercipta semakin banyak masyarakat mandiri melalui tangan-tangan mahasiswa.
Di sisi lain, aksi nyata seperti ini akan lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan demonstrasi masif menuntut kinerja pemerintah. Bagai air yang selalu mencari celah untuk mengalir ke tempat yang lebih rendah, mahasiswa perlu proaktif dan terus bergerak dalam usaha mensejahterakan masyarakat. Bukan hanya menunggu dan menanti kepekaan pemerintah, tapi langsung menunjukan aksi nyata lewat apa yang mampu dilakukan oleh tangan sendiri. Tak ada lagi waktu untuk menanti, karena bangsa ini membutuhkan pengembangan konstruktif ke arah kemandirian.
Semoga dengan usaha pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa, tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat binaan, melainkan menumbuhkan pula kepekaan mahasiswa terhadap kondisi bangsanya sendiri. Sebuah rasa yang tumbuh dari pengalaman langsung dari bangsanya, bukan sekedar teori dan diskusi di kelas berpendingin ruangan. Dari bangsa ini para calon pemimpin bangsa memahami makna empati, dan untuk bangsa ini pula para intelektual mengabdi.


0 komentar:
Posting Komentar